Rabu, 30 Juni 2010

Muse : The Resistance



Photobucket
Band asal Devon, Inggris yang fenomenal ini telah mengeluarkan lima album yaitu Showbiz [1999], Origin Of Symmetry [2001], Absoulution [2005] dan Black Holes & Revelations [2007] mereka telah mengeluarkan album terbaru berjudul The Resistance. Album ini mendapat atensi positif dari publik mendapat posisi 3 di US Billboard 200 dan menjadi jawara di negerinya sendiri yaitu Inggris.
The Resistance dibuka dengan “Uprising“. Track selanjutnya “Resistance” yang bernuansa dark dengan opening yang mengingatkan pada beberapa score film dengan dentingan piano dan permainan drum plus aroma indie rock yang orkestratik, cukup enak didengar meskipun bakal sedikit bosan karena kepanjangan dgn durasi 5:46. Di “Undisclosed Desire” seakan mereka berproduserkan seorang Timbaland (tapi untuk bagian artis rock). Arwah “Bohemian Rhapsody” dari Queen merasuk pada “United States Of Eurasia”, dimana piano klasik dan distorsi gitar mendominasi lagu, Matthew Bellamy seolah menjadi Freddie Mercury so orchestra dan pantas dijadikan single karena lagu ini mempunyai unsur ear catchy (sebelumnya mereka memutuskan single ini yang akan menjadi single pertama tapi diganti jadi “Uprising”).
Jangan lupa di ada permainan classic piano dari Matthew Bellamy (mengambil part dari Chopin) yang dilabeli “Collateral Damage”.” Guiding Light”, menunjukkan kemegahan nuansa orkestra dengan dibumbui distorsi gitar yang terus bikin gaduh di lagu. Jika pernah mendengar album Erwin Gutawa yang Rockestra pasti bisa menerima lagu ini. “Unnatural Selection”, menunjukkan sisi dark di 35 detik pertama sebelum dihajar dengan raungan space rock/industrial rock ala Nine Inch Nails atau Koil lalu berubah lagi menjadi slow rock ala Guns N’ Roses dan penutupnya adalah bagian Muse yang biasa mereka lakukan di album sebelumnya, ada beberapa bagian “Invincible” yang dicomot di sini, mendengarkan lagu ini berasa melihat sebuah epik kisah opera.
Jika ingin mendengar Muse yang sebenarnya ada di “MK Ultra”,track ini pasti disukai oleh para penggemar Muse yang biasa mendengarkan Muse memainkan progressive rock ada noise dari efek gitar di ending lagu ini.Mengambil karya teater Samsons & Dellilah di “I Belong To You/Mon Coeur S’ouvre A Toi”. Talking about the track, di bagian awal lagu ini terasa sekali nuansa latinnya, seolah mereka dibantu oleh Ryhtm Del Mundo pada pengerjaan lagu ini. Pada pertengahan lagu mereka bermain dengan sendu dan orkestratik apalagi ada part yang benar-benar disajikan secara megah seolah menjadi soundtrack sebuah pagelaran opera yang kolosal, suara Matthew Bellamy di part ini amat lirih dan jazzy sebelum akhirnya kembali ke nuansa latin tadi.
Masuk pada tahap simfoni ala Muse yang dinamai “Exogenesis Symphony”. Pada “Part 1:Overture” nuansa opera disini memang megah,bayangkan jika semua instrumen orkestra bergabung dengan kesenduan yang dalam, this track was very mellow. “Part 2:Cross Polination” sama sendunya dengan “Part 1:Overture” but more slower than before dan penutupnya “Part 3:Redemption” sama classicalnya dengan 2 part sebelumnya.Mendengarkan “Exogenesis Symphony” sama saja mendengar part-part simfoni dari komposer klasik seperti Bach, Beethoven, Mozart dan beberapa komposer klasik lainnya.
Overall, album terbaru Muse kali ini memang kurang begitu enak apalagi dibandingkan dengan album mereka sebelumnya yaitu “Black Holes And Revelations” yang bisa menggabungkan rock yang berat tanpa merusak sisi jualan mereka. Ada beberapa track yang buat pendengar awam pasti bakal susah dicerna tidak seperti album terdahulunya yang gampang dicerna. Menurut saya album ini adalah sisi eksperimental dari mereka cuman bertemakan rockestra (rock + orcestra). Well, jika ingin mendengarkan Muse yang bermain di wahana bernama orkestra atau ingin melihat a different Muse album ini direkomendasikan.
Track List:
1. “Uprising” – 5:02
2. “Resistance” – 5:46
3. “Undisclosed Desires” – 3:56
4. “United States of Eurasia (+Collateral Damage)” – 5:47
5. “Guiding Light” – 4:13
6. “Unnatural Selection” – 6:54
7. “MK Ultra” – 4:06
8. “I Belong to You (+Mon cœur s’ouvre à ta voix)” – 5:38
9. “Exogenesis: Symphony Part 1 (Overture)” – 4:18
10. “Exogenesis: Symphony Part 2 (Cross-Pollination)” – 3:56
11. “Exogenesis: Symphony Part 3 (Redemption)” – 4:37

source : http://creativedisc.com/reviews/album-of-the-day/album-of-the-day-muse-the-resistance/

Muse is always Inspiring Me

Belakangan ini aku sedang sangat menikmati lagu Muse di album RESISTANCE yang judulnya "Undisclosed Desire" lagunya sangat bersemangat belum lagi liriknya yang "aku" banget. Dalam lagu ini tidak terlalu gelap seperti lagu Muse lainnya, dan kesan rockestra nya pun juga tidak begitu ketara. Namun tentu saja, drum elektrik nya selalu menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Check this song and Enjoy the video.


video




Undisclosed Desires Lyrics

I know you suffered
But I don't want you to hide
It's cold and loveless
I won't let you be denied

Soothe me
I'll make you feel pure
Trust me
You can be sure

I want to reconcile the violence in your heart
I want to recognize your beauty is not just a mask
I want to exorcise the demons from your past
I want to satisfy the undisclosed desires in your heart

You trick your lovers that you're wicked and divine
You may be a sinner
But your innocence is mine

Please me
Show me how it's done
Tease me
You are the one

I want to reconcile the violence in your heart
I want to recognize your beauty is not just a mask
I want to exorcise the demons from your past
I want to satisfy the undisclosed desires in your heart

Please me
Show me how it's done
Trust me
You are the one

I want to reconcile the violence in your heart
I want to recognize your beauty is not just a mask
I want to exorcise the demons from your past
I want to satisfy the undisclosed desires in your heart

MUSE is an Absolute Favorite Band


Muse adalah grup musik rock alternatif asal Inggris. Band ini dibentuk di Devon pada tahun 1994. Anggota band ini terdiri dari tiga orang, yaitu Matthew Bellamy (vokalis, gitaris, pianis), Dominic Howard (drummer), dan Chris Wolstenholme (bassis). Muse memiliki genre musik yang memadukan rock, rock progresif, musik klasik, dan elektronika. Muse juga dikenal dengan konser live yang memukau, bercirikan permainan yang energik dan efek visual yang mengagumkan.[1] Muse telah merilis empat album rekaman, dimulai dengan Showbiz pada tahun 1999, diikuti Origin of Symmetry di tahun 2001, Absolution di tahun 2003, Black Holes & Revelations di tahun 2006 dan album terbarunya The Resistance di tahun 2009. Sepanjang kariernya, Muse telah memenangkan berbagai penghargaan termasuk 5 MTV Europe Music Awards, 5 Q Awards, 4 NME Awards dan 2 Brit Awards.


Pembentukan (1992-1997)

Pada tahun 1990-an awal, anggota-anggota Muse memiliki grup musik masing-masing di sekolah mereka. Pembentukan MUSE berawal ketika Matthew Bellamy yang berumur 14 tahun berhasil lulus audisi untuk masuk grup Dominic Howard. Ketika bassis mereka memutuskan untuk keluar, mereka meminta teman baik mereka, Chris Wolstenholme, untuk bergabung dan mempelajari gitar bass. Chris sempat menolak, tapi akhirnya memutuskan untuk bergabung. Band baru ini sempat banyak berganti nama, antara lain 'Gothic Plague', 'Carnage Mayhem', 'Fixed Penalty', dan 'Rocket Baby Dolls', sampai akhirnya menggunakan nama Muse yang dikenal sekarang. Urutan kronologis pergantian nama band ini tidak jelas, karena Muse memberikan informasi yang tidak konsisten pada wawancara-wawancara mereka.

Pada tahun 1994, masih dengan nama band 'Rocket Baby Dolls', mereka memenangkan kompetisi Battle of the Bands lokal. Dan tak lama setelah ini, mereka mengganti nama menjadi Muse, berpindah dari Teignmouth dan mulai tampil di beberapa klub seperti Cavern di Exeter.


E.P. dan Showbiz (1998-2000)

Setelah beberapa tahun membangun komunitas penggemar, Muse memainkan konser-konser pertama mereka di London dan Manchester. Band ini lalu bertemu dengan Dennis Smith, pemilik perusahaan rekaman Sawmills, yang bermarkas di Cornwall, Inggris.

Pertemuan ini akhirnya dilanjutkan dengan rekaman resmi pertama Muse, yaitu E.P. self-titled (berjudulkan nama band) yang menggunakan label Sawmills, Dangerous. Lalu E.P. ke-2 mereka, Muscle Museum, meraih peringkat ke-3 pada tangga lagu indie dan mendapat perhatian dari jurnalis musik Inggris yang berpengaruh, Steve Lamacq, serta majalah musik mingguan Inggris, NME. Dennis Mills lalu membantu membangun perusahaan musik Taste Media, yang dibuat khusus untuk Muse (Muse menggunakan label ini untuk 3 album pertama mereka). Ini merupakan hal yang sangat menguntungkan untuk Muse karena mereka dapat mempertahankan keunikan musik mereka pada awal karier mereka.

Walaupun E.P. ke-2 mereka cukup sukses, banyak perusahaan rekaman Inggris tetap enggan mendukung Muse, dan banyak orang di industri musik menganggap musik Muse terlalu mirip dengan Radiohead sebagaimana halnya band-band baru asal Inggris lain saat itu. Namun, perusahaan Amerika Serikat Maverick Records mempromosikan Muse untuk tampil beberapa kali di Amerika Serikat hingga akhirnya mengontrak mereka pada tanggal 24 Desember 1998. Sepulangnya dari Amerika, Taste Media mendapatkan kontrak untuk Muse di perusahaan-perusahaan rekaman di Eropa dan Australia. John Leckie, yang menjadi produser album untuk Radiohead, Stone Roses, "Weird Al" Yankovic dan The Verve, dijadikan produser album pertama Muse, Showbiz.

Peluncuran album ini diikuti dengan penampilan pendukung pada tur band Foo Fighters dan Red Hot Chili Peppers di Amerika Serikat. Pada tahun 1999 dan 2000, Muse bermain pada beberapa festival musik di Eropa dan Australia, dan mengumpulkan banyak penggemar baru di Eropa Barat.


Origin of Symmetry dan Hullabaloo Soundtrack (2001-2002)

Album ke-2 mereka, Origin of Symmetry, dengan John Leckie sebagai produser, berisikan musik yang lebih berat dan gelap, dengan suara bass yang dalam dan terdistorsi. Muse bereksperimen dengan alat-alat musik yang tidak biasa digunakan, seperti organ gereja, Mellotron, dan peralatan drum tambahan. Muse lebih banyak mengandalkan suara tinggi Bellamy, dengan alunan arpeggio gitar dan permainan piano yang terdengar jelas, yang terinspirasi dari gerakan Romantisme khususnya musikus Rusia Sergei Rachmaninoff dan Tchaikovsky. Beberapa lagu seperti "Space Dementia" memiliki unsur klasik yang lebih kental oleh musik Rachmaninoff. Bellamy juga menyatakan adanya pengaruh dari gitaris ternama Jimi Hendrix dan Tom Morello (gitaris Rage Against The Machine dan Audioslave) dalam melodi gitar pada beberapa lagu terakhir dalam album ini. Terdapat pula daur ulang dari lagu "Feeling Good", yang aslinya dibuat oleh Anthony Newley dan Leslie Bricusse dan dipopulerkan oleh Nina Simone.

Origin of Symmetry memperoleh penilaian yang beragam dari berbagai kritikus musik. Dean Carlson dari Allmusic menilai permainan Muse terlalu menyerupai Radiohead, dan menganggap lagu-lagu mereka terlalu berlebihan dan sulit diterima."Sebaliknya, Roger Morton dari NME memberikan nilai 9/10 untuk album ini, mengomentari sisi yang gelap dan berani dari Muse, bahkan menilai bahwa Bellamy lebih 'gila' dari Thom Yorke, vokalis Radiohead. Album ini berpotensi untuk membuat Muse semakin terkenal di Amerika Serikat, tapi Maverick tidak setuju dengan gaya vokal Bellamy yang dianggap tidak cocok untuk penyiaran radio dan meminta MUSE untuk mengubah beberapa lagu mereka sebelum dirilis di Amerika Serikat. Muse menolak permintaan ini dan meninggalkan perusahaan rekaman Maverick, yang mengakibatkan tidak dirilisnya album Origin of Symmetry ini di Amerika (album ini akhirnya dirilis di daerah tersebut pada 20 September 2005, setelah Muse menjalin kontrak dengan Warner).

Penampilan Muse selama promosi album Origin of Symmetry berhasil menarik banyak pengemar dan membangun reputasi Muse sebagai band dengan penampilan live yang luar biasa. Reputasi ini membawa Muse untuk merilis Hullabaloo Soundtrack, DVD yang berisi penampilan mereka di Le Zenith di Paris,Perancis pada tahun 2001. Lalu secara bersamaan, mereka juga merilis album ganda yang berisi B-side dan rekaman dari penampilan di Le Zenith. Album ganda single A-side juga dirilis, dengan dua lagu baru yaitu "In Your World" dan "Dead Star", yang berbeda dengan gaya opera lagu-lagu lain pada Origin of Symmetry.

Pada edisi Februari 2006 majalah Q Magazine, album Origin of Symmetry berhasil menempati peringkat ke-74 pada daftar 100 album terbaik sepanjang masa menurut penggemar.


Personil band


Matthew Bellamy – vokal, gitar, piano, keyboard, synthesizer
Christopher Wolstenholme – bass, vokal pendamping, keyboard, synthesizer
Dominic Howard – drum, perkusi

source : wikipedia

From Manual to Matic

Sudah 2 hari aku belajar naik motor matic. Yuhuuu, kurang lebih 10 tahun aku mengendarai motor manual, sekarang harus terbiasa dengan yang matic rasanya kaya baru belajar bawa motor aja. Hahahahaha...

Rasanya pun sangat berbeda jauh. Kalo untuk urusan nge gas, emang paling enak naik matic karena kita ga perlu cape-cape oper gigi, tapi ga enaknya naik matic, ngerinya klo mau ngerem mendadak ga bisa langsung berkurang kecepatannya, ga seperti klo naik manual khan bisa langsung oper gigi ke angka terendah. Hmm, selamat menikmati motor matic aja deh buat aku :)

Selasa, 29 Juni 2010

From the Star to Prisoner

Hampir sebulan kasus Videoporn yang melibatkan sejumlah artis terkenal di Indonesia menyita hampir seluruh rakyat Indonesia. Sampai-sampai isu mengenai politik pun tertutupi begitu saja.


Sedikit sharing mengenai apa yang terjadi beberapa minggu belakangan ini. Sedikit banyak berhubungan dengan artis-artis yang terlibat di dalam video tersebut. Hingga tulisan ini diturunkan, aku belum sama sekali pernah melihat apa yang ada dalam video yang heboh itu. Salah satu artis berbakat Ariel, ya dia begitu menyita perhatianku. Bukan karena apa yang ada dalam video tersebut, melainkan lagu-lagu yang ia ciptakan sebagian memang sangat menginspirasi bagiku. Saat itu aku tak begitu tertarik dengan infotainment yang over ekspos kasus yang menimpa Ariel Peterpan-Luna maya-Cut Tari tersebut. Tapi makin ke sini, aku makin dibuat penasaran, kenapa sampai berlebihan seperti itu media mengekspos nya. Aku yakin hal itu pasti hanya rekayasa, lantas mengapa di ekspos besar-besaran. Awalnya aku tak percaya, media makin 'gila' menyatakan bahwa video itu asli. Dan bahkan para pakar pun berpendapat begitu. Apa iya? seorang bintang papan atas, dan sangat berprestasi itu seorang yang ada dalam video itu. Saat itu aku masih simpati dengan keadaan yang menimpa mereka, karena aku pikir mereka pasti hanya korban. Entah kenapa, baru kali ini aku benar-benar tertarik dengan yang namanya infotainment saat mengulas berita tentang mereka. Aku bingung sendiri. Ada apa ini? kenapa aku sampai harus punya rasa simpati, saat mengetahui Ariel ditahan paksa (yang menurut berita sih katanya menyerahkan diri). Katanya sih karena Ariel tidak kooperatif dengan pihak kepolisian mengenai kasus ini. Dari sini aku mulai berpikir. Aneh? kenapa hanya Ariel saja yang ditahan, lalu bagaimana dengan pihak lainnya??

Setiap hari aku tak pernah melwatkan berita tentang Ariel di internet. Aneh, makin hari aku makin keranjingan dengan berita tentang Ariel. Kenapa? kenapa koq cuma Ariel yang ditahan. Bukankah ada pihak-pihak terkait yang turut bertanggung jawab yang sepantasnya juga ditahan. Kemana itu para pengunduh video tersebut? apakah mereka dibebaskan begitu saja? Aku mulai gerah. Baru kali ini aku punya rasa geregetan dengan artis yang terlibat dengan kasus hukum. Pro kontra di mana-mana.

Hei, aku saat itu Pro dengan Ariel. Aku mendukungnya untuk terus berkarya, dan aku juga terang-terangan mendukung Ariel supaya mencari keadilan. Di berbagai forum di internetlah aku berani berdebat mengenai pendapatku tadi. Tidak sedikit orang yang mengatas namakan norma sangat mengutuk perbuatan artis-artis tersebut. Oke, aku juga mengerti hal itu. Yang aku heran, kenapa hanya Ariel yang ditahan? dan apa salah aku mendukungnya, tentu aku bukan mendukung perbuatannya, tapi mendukungnya untuk terus berkarya. Aku akui semua lagu-lagunya sangat indah. Dan dari dulu pun aku sangat menyukai lagu-lagunya. Dan aku sangat kecewa, marah serta sangat miris mengetahui bahwa sang Vokalis ternyata....


Aaahh, dunia itu berputar, begitu juga dengan nasib seseorang. Dia dulu seorang bintang, sekarang dia seorang tahanan. Sekarang entah kenapa, perasaan kecewa, marah, jijik terhadap sang vokalis semakin kuat. Padahal beberapa hari lalu aku terang-terangan membelanya. Bahkan di situ jejaring sosial aku sempat berdebat dengan beberapa orang yang Kontra dengan Ariel.

Aku tentu tidak perlu menulis lagi apa yang aku debatkan dengan mereka di sini.

Sekarang aku sadar. Suara ku mendukungnya pun tak ada gunanya...hahahahahahha..lucu juga aku ini. Ngapain juga aku turut simpati pada artis itu. Sekarang kasus nya bergulir makin seru, sudah ditemukan titik terang oleh para penyidik bahwa si Ariel memang orang dalam video itu... Aaarrgghh makin panas dada ini karena kecewa. Oh betapa kasihan sekali Ariel dan Luna Maya serta Cut tari. Mereka awalnya di elu elukan secara mengejutkan tiba-tiba mereka di hujat habis-habisan oleh sebagian masyarakat.


Lihatlah di DUKUNG-ARIEL-UNTUK-TERUS-BERKARYA dan aku bisa merasakan sensasi kemarahan para fans saat para penghujat menghina para pendukung Ariel, dan tidak sedikit (bahkan ribuan) yang masih setia mendukung Ariel untuk terus berkarya, dan pastinya berkarya dengan cara terbaik yang Tuhan berikan kepada hambanya yang mau bertobat... halaaaahh jadi lebai juga..hihihi..

Sekian curhat ku tentang seorang penyanyi yang lagu-lagunya mengsinspirasi ku saat dulu ku merasa tak ada tempat berpijak. Ku berkelana pun di antara ribuan orang, aku nampak sendiri.

Haduuh tuh kan keluar deh tuh sosok pujangga wanita nya..ehhehe. BYE!

Rabu, 16 Juni 2010

Cerpen : Where’s True Friend (3)

Gue Alin.

Saat ini gue lagi menghadapi masalah yang bisa disebut dengan konflik batin, tapi masih dalam taraf yang biasa aja. Dan itu cukup membuat gue berpikir terus tentang ini.
Apa istimewanya menjadi gue. Hidup gue terlalu hampa untuk dimaknai. Ngga ada sesuatu yang berarti di hidup gue. Selama ini gue berusaha menjadi diri yang baik. Tapi kenapa gue selalu aja jadi yang terasingkan. Gue udah mencoba ‘muncul’, tapi tetap aja ngga ada yang mengerti dan ngga ada yang mencoba menganggap gue ada di dunia ini.

Apa gue lagi kena penyakit krisis percaya diri? Ngga juga. Gue cuma males menghadapi kenyataan bahwa diri gue ngga punya andil besar dalam mempengaruhi diri gue sendiri.
Gue males. Bener-bener males. Peristiwa dua tahun lalu membuat gue sulit percaya sama orang. Ingatan-ingatan tentang hancurnya persahabatan gue, retaknya keluarga gue. Itu semua membuat gue males menghadapi keadaan sekarang. Dunia kampus yang memuakkan. Dengan semua orang yang memakai topeng. Berpura-pura baik. Atau menjadi seseorang yang bukan dirinya.

Entah kenapa tiba-tiba perasaan itu muncul. Perasaan ingin mencoba dimengerti dan dianggap ada. Perasaan itu pernah hilang selama hampir dua tahun. Saat itu, selalu ada pikiran yang bikin gue ngga pengen hidup di dunia ini.
Gue merasa, apa gue terlalu buruk di mata orang-orang, sampai orang-orang menganggap diri gue ngga ada di sini. Gue kadang kesal sama orang yang rela melakukan apa aja supaya diakui, dianggap ‘ada’ dan diterima oleh orang-orang, sekalipun jalannya ngga bener.

Gue bukan pecundang, tapi kenapa kadang gue selalu menganggap diri gue begitu. Terus untuk apa gue hidup, kalau mereka ngga mau menganggap gue ‘ada’, dan membuat gue merasa terasingkan. Kenapa harus terjadi sama gue? Lo salah Alin! Lo ngga seharusnya berpikiran kaya gitu. Lo bukan pecundang! Yang bikin lo merasa terasingkan adalah diri lo sendiri yang ngga mau terbuka. Lo cuma butuh orang-orang yang sama-sama mencari jawaban kaya lo. Untuk menemukan jawabannya lo butuh sahabat!. Tiba-tiba ada suara yang sepertinya ke luar dari hati gue. Dan lo bakal mendapatkan apa yang ngga pernah lo dapatkan dari sebuah persahabatan.
Apa iya gue butuh teman. Siapa yang mau temenan sama gue apalagi bersahabat? Emangnya ada?.
“Lin? Mau gabung ngga?” tanya Suci saat mengerjakan tugas pak Jun.
Kenapa Suci nawarin gue? Ah! Mungkin cuma basa-basi aja. Karena gue tahu dia dan teman-temannya itu mana mau berteman dengan orang kaya gue yang biasa aja dan ngga bisa apa-apa ini.

Ehm, tumben Tarra sendirian. Ke mana temen-temen setianya itu?. Kasian banget sih! Tapi lebih kasihan gue khan, di saat gue lagi bingung kaya gini mana ada orang yang peduli sama gue. Sedangkan Suci atau Tarra pasti selalu dapet perhatian dari sahabat-sahabatnya. Enaknya jadi mereka.

Iiiih! Tumben Tarra senyum-senyum sama gue. Kenapa dia? Ah! Pasti dia cuma lagi sok ramah aja sama gue. Selama ini mana pernah dia begitu sama gue, apalagi teman-temannya itu. Gue khan bukan siapa-siapa. Sebenarnya dulu gue pernah gabung di antara mereka, tapi gue cukup tahu diri karena gue ngga sepadan dengan mereka, dan kayanya mereka juga ngga terlalu baik sama gue.

Siang itu gue jalan ke perpus sendirian. Niatnya sih mau pinjam buku buat tugas minggu depan, tapi males juga. Ya udah gue ngeliat-ngeliat buku Psikologi aja yang kelihatannya menarik.
“Where’s True Friend?” Wah, kayanya ini yang menarik.
“Tarra? Suci?”
“Lo dulu aja yang pinjam!” kata Tarra.
“Ngga usah kalian dulu aja!” sambung Suci.
“Gue belakangan aja!” kata gue sambil pergi ninggalin mereka berdua.

* * *

Ngga nyangka ternyata gue bisa sahabatan sama Suci dan Alin sampai sekarang. Dulu gue pikir, Karin, Vanes dan Mia adalah sahabat gue yang sebenarnya. Mereka sih baik sama gue, tapi kebaikan mereka semata-mata hanya karena materi yang gue punya, bukan apa-apa yang ada di hati gue.

Gue bener-bener berterima kasih banget sama sahabat-sahabat gue. Suci dan Alin. Orang tua gue bangga sama gue, akhirnya gue bisa lulus kuliah tepat waktu. Dulu mereka pikir gue bakal lulus dua tahun lebih lama dari waktu yang seharusnya. Karena pertemanan gue dengan Karin dan kawan-kawan. Ini emang udah jalan yang udah Tuhan kasih buat gue.
Dengan cara yang gue ngga pernah tahu, sampai akhirnya gue bertemu dengan Suci dan Alin. Awalnya sih mereka orang lain di mata gue. Walaupun mereka berada dalam ruangan yang sama dengan gue, tapi keberadaan mereka saat itu, sama sekali ngga mempengaruhi gue.
Tapi setelah kejadian di perpustakaan beberapa tahun lalu, semuanya jadi berbeda. Bener kata Suci “Your bestfriend is the one who bring out the best in you”, dari Suci dan Alin gue dapet ketulusan dari sebuah persahabatan.

* * *

Mencari teman itu mudah, tapi yang namanya mencari sahabat itu susah banget. Mudah—mudahan persahabatan aku, Tarra dan Alin yang sudah dibangun bertahun-tahun ngga akan mudah hancur begitu saja. Memang sih dari Arun dan Zea aku banyak belajar menjadi lebih baik, tapi aku sendiri belum mendapatkan suatu ikatan persahabatan dari mereka, sampai sekarangpun aku masih berteman baik dengan mereka. Meskipun aku, Tarra dan Alin kadang suka berbeda pendapat tapi kami bisa saling mengisi. Mudah-mudahan merekalah sesunguhnya sahabatku.

* * *

Sejak berteman dengan Tarra dan Suci gue jadi lebih baik lagi dalam memandang hidup. Suci bilang “Feel good about yor friend”. Iya sih selama ini gue terlalu berprasangka buruk dan terlalu menganggap diri gue ini ngga pantas hidup di dunia, dan menganggap ngga ada satupun orang yang benar-benar mau bersahabat sama gue. Padahal itu cuma pikiran yang sama sekali ngga benar. Ternyata perkataan Tarra sangat berpengaruh juga, “ A person who have no friend, lives only half way.”
Thanks may bestfriend you’ve change my life!!!

***

“Gimana, Tar? udah ketemu Karin?” tanya Suci.
“Belum!” jawab gue.
Gue, Suci dan Alin sedang menunggu pesanan makan siang kami di sebuah kafe di pinggiran Jakarta. Kebetulan, hari ini honor pertama Suci keluar, dia berjanji akan mengajak kami makan sepuasnya di kafe langganan kami sejak semester lima, waktu kami kuliah dulu, kira-kira dua setengah tahun lalu. Sekarang Suci bekerja sebagai seorang scriptwriter di sebuah program televisi di sebuah stasiun TV swasta.

Gue sendiri sekarang sedang bekerja sebagai marketing di sebuah provider laptop ternama di daerah Jakarta Barat. Sedangkan Alin sedang melanjutkan kuliah S2-nya di universitas yang berbeda. Awalnya gue ngga menyangka, kalau Alin lulus sarjana dengan predikat cumlaude. Sama sekali ngga ada yang menyangka hal itu. Gue bangga melihat Alin yang sekarang. Dia menjadi orang yang sangat percaya diri dan terbuka. Menjadi orang yang selalu positif dalam berfikir. Tidak seperti beberapa tahun lalu saat pertama kali gue mengenalnya.
“Jadi dia belum lulus kuliah juga?” tanya Alin.
Gue menggeleng ragu, “gue denger dari Vanes begitu.”
“Jangan-jangan dia malu ketemu sama lo, Tar?” ujar Suci.
Gue cuma mengangkat bahu. “Buat apa dia malu ketemu gue.”
“Ya, inget khan dulu gimana dia dan teman-temannya mencaci maki lo saat lo membelot dari Karin dan gengnya itu, dan ngga ngakuin lo lagi sebagai bagian dari mereka,“ ujar Suci sambil menyeruput segelas jus mangga.

Gue hanya menggeleng mendengar penuturan Suci sambil mendesah, “udahlah. Itu masa lalu. Hmm, padahal gue mau bantuin dia, gue denger dari Vanes dia lagi butuh pekerjaan untuk biaya kuliahnya. Kebetulan di kantor gue lagi butuh karyawan.”
“Maksud lo apa?” tanya Alin penasaran.
“Gue juga kurang tahu jelas, katanya kondisi ekonomi keluarganya lagi carut marut, makanya Karin lagi butuh banget pekerjaan.”

Tiba-tiba ponsel gue berbunyi.
“Halo Tarra! ini gue Karin!” suara yang berbeda dari yang gue dengar beberapa tahun lalu. Kali ini suara Karin terdengar begitu lembut dan bersahabat. Ngga nyaring dan ngga terdengar membentak-bentak seperti dulu.
“Iya Karin! gue ngga mungkin lupa sama lo, koq!”sahut gue. “Lo khan bestfriend gue!”
Ada sebuah kelegaan muncul saat gue menyebut Karin sebagai bestfriend gue. Ada satu pelajaran lagi yang gue baru pelajari. Walaupun Karin dulu sempat mengenyahkan gue dari daftar temannya, tapi saat ini justru gue lega bisa kembali komunikasi dengan Karin. Semoga ini akan menjadi awal yang baru bagi hubungan pertemanan gue dengan Karin yang sempat retak beberapa tahun lalu.

Sabtu, 12 Juni 2010

Hampir Ditipu Orang Bengkel Motor

Hati-hati! waspada! Penipuan mengintai wanita pengendara motor. Beberapa hari lalu aku pulang kerja dijemput adikku. Biasanya sih bawa motor sendiri. Tapi hari itu aku lagi males banget bawa motor. Satu kilometer sebelum sampe rumah, ban motornya bocor. Adikku menyuruhku bawa motor itu ke bengkel motor terdekat yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari tempat kami berhenti. Adikku bilang ban nya cuma bocor, perlu ditambal. Aku percaya saja, sebab dia sangat mengenal bagian motor sampai kebagian-bagian terkecilnya, dan bisa dibilang dia montir motor bagi teman-teman sekolah otomotif nya.
Aku mengendarai motor pelan-pelan, sementara adikku berjalan di belakangku. Tentu mustahil motor itu dikendarai oleh adikku yang berbadan gemuk.
Sampai di tempat bengkel, aku disambut orang-orang berseragam resmi bengkel motor itu. image pertama yang bakal muncul adalah pelayanan oleh montir-montir ini pasti memuaskan. Feeling ku mendadak tak enak saat melihat satu orang salah satu montir tersebut membisikkan sesuatu ke montir yang menangani motorku, sambil melirik-lirik ke arah aku dan motorku secara bergantian. Baru saja penutup pentil motornya dibuka, di isi angin, belum apa-apa, montir itu bilang
"Wah mba, peru ganti ban dalem nih mba",
aku jawab " Ganti ban dalem gimana ceritanya, di periksa aja belom bagian mana yang bocor"
"Ini klo dove nya ngga pecah mungkin bisa ngga ganti ban dalem", katanya.
Aku tanya lagi " Mana sih yang pecah?" , sambil mengarahkan ke pentil ban motor itu , memang terasa keluar angin dari situ. Aku mulai curiga dan was-was sebab adikku yang berjalan kaki belum sampai-sampai juga. Montir itu sudah mau melakukan aksi membongkar motorku tanpa persetujuan dariku.
Aku sedikit ngotot, bilang ke montir itu "Mas jangan dibongkar dulu, saya mau nunggu yang punya motor dulu, jangan main bongkar dong. Saya ngga punya duit lho kalo ganti ban dalem", kataku sedikit berbohong.
Aku mulai kesal karena montir itu sedikit ngotot kalo perlu diganti ban dalem. hal terbodoh kalo aku langsung percaya gitu aja, Masa belom di cek belom diapa-apain langsung bilang ganti ban dalem. Image montir dan bengkel jujur pun langsung luntur seketika. Padahal bengkel itu lumayan besar di daerah itu (Kalo mau tahu, bengkel itu ada di daerah Radar Auri-Cimanggis). Terjadi sedikit perdebatan selama beberapa menit sampai adikku sampai. Aku bilang pada adikku kalo montirnya nyuruh ganti ban dalem. Adikku bilang sama montir itu "Cuma butuh ditambal, ngapain ganti ban dalem". Adikku sedikit emosi dengan kelakuan montir yang sepertinya mau menipu diriku. Adikku langsung menuntun motor itu keluar bengkel dan membawa motor itu ke bengkel yang berjarak 10 meter dari bengkel pertama. Andai saja montir itu tidak mengada-ada, mungkin aku bisa saja berbaik hati untuk mengganti ban dalam nya. Tapi ini, baru di isi angin, belum dilihat di cek mana yang bocor, langsung menyarankan untuk ganti ban dalam. Aku benar-benar merasa mau ditipu. Wanita pengendara sepeda motor memang paling rentan ditipu sama montir iseng seperti itu. Buat para wanita biker yang bisa pake tapi ngga ngerti mesin atau bagian-bagian motor lainnya, hati-hati bila membawa motor ke bengkel tanpa ditemani oleh orang yang paling tidak mengerti urusan motor.

Rabu, 09 Juni 2010

Fenomena "Janur Kuning Melengkung"

Bulan Juni kayanya lagi fenomena "Janur Kuning Melengkung" di setiap gang ya. Sebenarnya sih bukan hanya bulan Juni aja, tapi kayanya lebih banyak aja gitu ngeliat janur di mana-mana setiap weekend.
Beberapa hari lalu, aku dan suamiku pergi ke suatu tempat, mumpung libur, jadi aku habiskan waktu satu hari bersamanya. Saat perjalanan menuju daerah Depok, rasa penasaran membuatku bertanya-bertanya, siapa gerangan yang menikah di gang itu. Entah kenapa, rasa iri nyantol di hati. Hahahahaha, iri di sini bukan iri ngeliat orang married, tapi lebih kepinginan untuk resepsi lagi. Pasti bakal diketawain abis-abisan sama misua kalo ngomong hal ini. Ngga cuma sekali dua kali, tapi berkali-kali. Abis seru aja gitu ngalamin yang namanya resepsi pernikahan sekali seumur hidup. Bayangan-bayangan menjelang hari H, membuat aku ngga enak makan satu minggu. Apakah begitu juga yang di alamin orang yang bakal married.
Sedikit sharing mengenai janur kuning ini (Alias, pernikahan).
Ingat waktu malam sebelum hai H, orang-orang lagi pada stress di luar , aku malah santai nyalon di kamar. Ngebayangin, bakal nervous nya kaya apa ya...Dipijit sambil lulur pun jadi penenang. Abis mandi seger-seger, aku dilarang jalan-jalan keluar. Laaaaahhh, mana bisa aku diem-diem gini, sementara bakal ada hajat besar di rumah. Takjub dengan hasil dekorasi tenda tertutup dengan luas kurang lebih sekitar 120m, sudah berdiri tegak di halaman rumah. Waaahh, bakal kaya apa besok. Thanks to my Parents, for being my best wedding organizer.
Lagi asyik ngeliatin teman-teman yang bikin janur kuning yang kecil , apa ya namanya klo ga salah mayang sari apa sari -sari gitu deh , ngga ngerti. Jadi ngebayangin, wuih, bakalan ada nama aku tertampang di sudut-sudut jalan..hhihihi.
Malam larut, hati mulai dag dig dug. Kekahawatiran mulai terjadi saat hujan sedikit turun, ya Allah aku banyak-banyak berdoa gar hujan tidak turun hari ini, agar besok acaranya lancar. Aminn. Tapi gerimis terus turun. Aku mulai panik. Apa lagi ini, masa sampai hari ini pelaminan belum di pasang. Aku mulai teriak dalam hati. Aku ngga berani komentar banyak, karena semua hal yang urus orang tua, jadi aku segan berkomentar. Aku diam. Sampai jam 3 pagi aku terbangun. Iseng aku keluar rumah, siapa tahu, surprise, bakalan udah jadi dekorasi di pelaminan. Dan... yang paling ditakutkan terjadi, pelaminan itu belum beres, bahkan 70%. Aku terduduk diam di luar rumah. Mau komentar apa? aku hanya diam seribu bahasa, mendengar selentingan orang yang smasih sibu wara wiri bilang, orang dekor nya salah pasang pelaminan. Yang aku pesan bukan yang seperti itu, tapi yang datang bisa dibilang kurang begitu memuaskan. Aku diam lagi. Mau berbuat apa dan bagaimana, sedangkan acara tinggal beberapa jam lagi.
Aku paksakan untuk tidur dengan perut keroncongan, aku ingat aku belum makan sejak pagi. Paginya aku bangun, aku ngintip sedikit persiapannya yang sudah 98%. Ya, aku jadi sedikit masa bodo' lah dengan pelaminan, yang penting sah nya. Ya khan.
Ah, akhirnya, waktunya datang juga. Akad dimulai. Dengan mengenakan gaun kebaya warna putih tulang,waktunya datang juga. Aku masih belum bisa percaya kalau hari ini, hajat milik diriku. Aku ingin tertawa. Bukannya terharu saat akad di mulai. Rasa nervous sindrom pranikah luntur seketika saat menyambut tangan pengantin laki-laki. Alhamdulillah. barokallah.

Kembali ke "Fenomena "Janur Kuning Melengkung" " ini, aku sampai saat ini masih terbayang-bayang suasana resepsi pernikahan. seperti ingin mengulang lagi saat-saat seperti itu setiap melihat janur kuning melengkung.

Selasa, 08 Juni 2010

Cerpen : Where’s True Friend (2)

Aku Suci.

Hari ini aku bangun kesiangan. Seingatku, baru kali ini aku kesiangan. Bagaimana mungkin aku bisa kesiangan, padahal aku ngga terlambat tidur.

Akhir-akhir semangat kuliahku sedang berada di bawah standar kemalasanku. Entah apa yang membuatku begitu berat melangkah masuk ke ruangan kuliah jam pertama ini. Bertemu dengan kedua teman akrabku.

Apa mungkin karena aku sedang merasa sedikit ngga sreg sama Arun dan Zea. Ngga tahu kenapa. Mungkin bagi sebagian orang masalah ini masalah sepele. Tapi bagiku itu merupakan sesuatu yang penting juga. Selama ini aku kenal banyak orang untuk aku jadikan teman, tapi yang benar-benar jadi teman sejati itu susah. Dan mungkin saat inipun aku belum menemukannya, meskipun aku, Arun dan Zea cukup dekat.

Hari ini kuliah pagi, tapi aku datang agak kesiangan. Di kelas, aku lihat ada Roby, Dian, Anty, dan Tarra. Satu pertanyaan terbesarku saat itu adalah, tumben banget Tarra sendirian? Ke mana teman-temannya?. Ternyata dia bisa ‘hidup’ juga tanpa teman-temannya yang heboh itu. Baru beberapa menit kemudian Arun dan Zea datang bersamaan. Tumben mereka juga kesiangan.
Sebelum pak Jun selesai mengajar, beliau memberi tugas pada kami. Belum apa-apa, sebagian mahasiswa sudah merubung bangkuku, Arun dan Zea. Bukannya sombong, tapi kadang asik juga jadi bahan contekkan. Itu berarti mereka masih menganggap bahwa kami ‘ada’. Tapi aku lihat Tarra malah cuek banget sama tugas itu, dia menyendiri menjauhi teman-temannya.

Mata kuliah kedua di mulai satu jam lagi. Satu jam kosong ini, biasanya kami gunakan untuk sarapan pagi, bagi mereka yang belum sarapan pagi. Atau sekedar duduk-duduk ngobrol di bangku taman.

“Arun! Zea! Ayo!” ajakku pada mereka untuk menemui teman-temanku yang kebetulan berasal satu SMA denganku dulu.
“Ngga ah, Ci! Gue mau k e warnet,” tolak Arun.
“Males, Ci!” begitu juga dengan Zea, “Ngapain sih?!”

Aku sering bingung dengan sikap mereka yang kadang terkesan sombong. Di kelaspun begitu, mungkin karena mereka itu lebih pandai dibanding mahasiswa seangkatannya, kadang mereka ngga mau berteman dengan orang yang bagi mereka bodoh, malas atau apalah. Aku sebenarnya ngga suka dengan sikap mereka yang seperti itu. Mungkin itu juga yang membuat mereka jadi jauh dengan mahasiswa lainnya. Tadinya aku enjoy sama mereka tapi akhir-akhir ini aku mulai merasa ngga suka dengan mereka, sekalipun aku sangat dekat dengan mereka.
Aku pikir orang jenius kaya mereka bakal mau menerima orang apa adanya. Tapi buktinya pola pikir mereka jauh dari apa yang aku kira selama ini. Aku serba salah. Aku butuh teman, tapi bukan teman yang menganggap dirinya paling hebat, Aku jadi ingat Tarra, pasti enak punya sahabat yang selalu sejalan, sepikiran dan sehati kaya mereka berempat.

Aku terus mencoba memaksa mereka agar mau ikut denganku paling tidak hanya menyapa teman-temanku itu. Akhirnya mereka setuju tapi dari wajahnya terpancar wajah ketidaksenangan. Mudah-mudahan aku salah mengartikan guratan di wajah mereka.

Sekilas aku melihat Tarra berjalan sendirian. Dia terlihat berbeda dari biasanya. Wajahnya juga kelihatan ngga bersemangat, apa dia sedang ada masalah dengan teman-temannya. Sangat jarang malah hampir tidak pernah aku melihat salah satu anggota geng heboh – kata Arun – itu jalan sendirian seperti Tarra saat ini.

Setelah itu aku, Arun dan Zea ke perpustakaan. Arun dan Zea segera berkutat di tempat buku-buku ekonomi. Aku malah menyusuri rak buku dari fakultas psikologi. Tak ada yang menuntunku ke tempat ini, namun tiba-tiba saja kakiku melangkah dengan santai ke deretan rak-rak yang belum pernah aku lewati.
Aku teringat dengan masalah yang aku pikirkan tadi malam. Masalah yang sedang aku pikirkan. Ehm, sebenarnya sih bukan masalah. Tapi apa ya namanya, sesuatu yang mengganjal di hati. Mengenai Arun dan Zea. Mereka memang teman terbaikku, tapi mengapa mereka belum bisa aku sebut sebagai sahabat yang sebenarnya.
“Where’s True Friend?” judul buku yang kelihatannya menarik. Ehm…mungkin dari buku itu aku bisa menemukan jawaban dari apa yang aku pikirkan akhir-akhir ini. Baru saja aku hendak mengambilnya tiba-tiba ada 2 tangan lain yang ingin mengambilnya juga.
“Tarra? Alin?”

* * *

To be continued...

Jumat, 04 Juni 2010

Cerpen : Where’s True Friend (1)

created : Wednesday, August 05, 2009, 1:42:33 AM


Malam itu gue sedang berusaha tidur. Udah seminggu ini penyakit insomnia gue kambuh. Tiba-tiba telepon di atas meja belajar gue berdering.
“Halo, Tarra! Besok jadi khan?” tanya Karin di telepon terdengar penuh semangat.
“Ngga janji ya, Kar?” jawab gue.
“Iiih!” pekik Karin nyaring. Bakalan tambah susah tidur nih gue. “Sejak kapan lo pake ngomong ngga janji segala. Kaya orang penting aja tau ngga!” sahutnya kesal lalu segera menutup teleponnya.
Gue Tarra. Ini awal semester dua gue kuliah. Dan sekarang gue baru merasa ada sesuatu yang kayanya ngga nyaman dalam hidup gue. Awalnya sih happy tapi makin ke sini gue makin merasakan kejanggalan itu.
Hari ini ada kuliah pagi. Tadi malam beneran gue ngga bisa tidur nyenyak. Padahal gue udah mencoba minum obat tidur. Tapi hasilnya nihil. Gue baru bisa tidur jam lima pagi. Entah ada kekuatan apa yang membuat gue bisa bangun jam enam.
Wah, kayanya gue kepagian nih datengnya. Pak Jun, dosen statistik, udah masuk kelas tapi mahasiswa yang lain belum banyak yang dateng. Baru ada Roby, Dian sama Anty. Sepuluh menit kemudian baru mulai banyak yang dateng. Tapi Karin, Vanes dan Mia ngga datang. Rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran mereka. Mereka sahabat gue.
Ehm…tapi apa iya mereka sahabat gue? Kalau ternyata selama ini jalan pikiran kita ngga pernah sama. Mereka cenderung mengutamakan eksistensi mereka demi mendapat pujian, dan sanjungan dari temen-temen. Awalnya gue bangga dan menikmati jadi bagian dari mereka, yang bisa dibilang populer. Karena ngga semua orang bisa jadi bagian dari mereka.
Suatu malam, tiba-tiba gue merasa ada yang ngga beres, perasaan sangat ngga nyaman menghantui gue malam itu. Perasaan bahwa mereka sesungguhnya bukanlah sahabat yang seperti gue bilang selama ini.
Rasanya selama ini gue udah buta. Gue baru sadar kalo mereka ngga pernah sedikitpun mikirin orang lain. Karin, Vanes dan Mia kayanya bakal ngerusak hidup gue kalo gue terus sama mereka. Dimata orang, kita kelihatan sempurna, tapi… itu ngga bener!. Gue udah jarang kuliah, ngga pernah ikut praktikum wajib, jarang ngumpulin tugas, sering ngga ikut kuis, itu semua karena ajakan mereka.
Pergi ke tempat-tempat yang ngga penting dan ngabisin duit orang tua bareng mereka. Dan semua itu kita lakukan - gue rasa - hanya untuk cari kesenangan, cari pamor, dan jaga gengsi. Kaya hari ini, mereka ngga kuliah cuma mau belanja buat acara ulang tahunnya Angel, yang pastinya cewek populer juga. Penolakan gue untuk ‘cabut’ sama mereka hari ini menjadi ancaman buat gue. Gue bakal dicap ngga asik, ngga solid dan ngga kompak sama mereka. Whatever they say.
Gue pengen berubah rasanya. Berubah dalam arti, ngga menyia-nyiakan hidup gue cuma buat yang ngga penting dan ngga menyia-nyiakan kepercayaan orang tua gue. Semakin dewasa harusnya gue bisa cari temen yang bener-bener bisa bawa gue ke arah yang lebih baik. Ingin dapat perhatian, dapat pujian, atau jadi yang paling wah, ngga harus begini caranya.
“Tarra! Ngga keluar? mata kuliah pak Jun udah selesai, lho!” tegur Roby.
“Oh, nanti!” jawab gue.
“Mau ikut ke kantin?” ajaknya.
“Thanks! Gue mau ke perpus!”
“Perpus?!” tanya Roby heran.
“Iya? Kenapa?”
“Ah, ngga! Ganti tempat tongkrongan nih ceritanya?” katanya. Dari nada bicaranya seperti mengejek, tapi gue cuek. Kata-katanya ngga mempengaruhi gue koq.
Gue juga ngga tahu kenapa pengen ke perpus. Selama perjalanan menuju perpus banyak hal yang ngga pernah gue lihat selama ini, ternyata menarik juga. Ngeliat Suci, Zea dan Arun gue jadi ngiri. Pertemanan mereka kayanya adem ayem ngga ada masalah. Mereka temen sekelas gue yang bisa dibilang pinter. Mereka kelihatannya kompak banget deh. Mereka bisa membaur sama mahasiswa lainnya tanpa harus memandang status. Ngga kaya Karin, Vanes dan Mia, gengsi banget kalo harus gabung sama mereka yang bisa dibilang ‘rakyat kelas dua’ di kampus. Dan gue pun jadi ikut-ikutan begitu.
Saat Suci, Zea dan Arun lewat depan gue. Gue berusaha negor mereka, tapi kayanya mereka ngga mau gue sapa, sebab wajah mereka seakan bilang begitu. Cuma Suci yang sempet sekilas ngeliat gue.
Gue jalan ke perpus. Gue bingung sendiri, ngapain gue ke sini. Daripada BT gue iseng-iseng ngeliat buku-buku, kali aja ada yang menarik.
“Where’s True Friend?” judul buku yang baru aja gue liat.
Baru aja gue pengen ngambil buku itu, tapi tiba-tiba ada dua tangan lain yang megang buku itu.
“Suci? Alin?”

to be continued...