Sabtu, 07 Januari 2012

Konjungtivitis Akut

Seperti yang pernah aku ceritakan di postingan hari ibu kemarin. Aku pernah kena konjungtivitis waktu hamil sekitar 3 atau 4 bulan. Konjungtivitis akut menurut dokter spesialis mata. I hate to hear AKUT word. Sudah 2 kali dalam setahun (2010 lalu) aku menderita sakit dengan berujung kata akut. Waktu bulan Juni 2010 aku kena Bronchitis, lagi lagi diagnosa dokter dari hasil ronsen, berembel-embel akut. Yaitu penyakit peradangan saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus. 

Oke, kembali ke topik. Awalnya kena konjungtivitis itu tertular suami ku yang kena sakit mata biasa. Aku, awalnya ngga terlalu yakin tertular. Dan kalaupun tertular, tidak separah saat itu. Setelah seminggu suamiku kena sakit mata, lalu aku yang kena. Mulanya biasa, gatal-gatal dan merah. Karena biasanya sakit mata ini bisa disembuhin pake obat mata yang di beli di apotik, maka akupun ngga terlalu takut. Tapi ngga tahunya, tiga hari kemudian, sakit mataku parah. Bukan lagi sakit mata seperti yang suamiku alami. Mataku merah, bengkak, ngga bisa liat, gatal, disertai sakit kepala. 

Aku masih kira itu sakit mata biasa. Lima hari tak kunjung pulih, suamiku mengantarku ke dokter umum. Diberi obat mata biasa. Esokannya tetap tidak ada perubahan. Dan, karena ke-awam-an kita (keluargaku) tentang sakit mata, maka nya nurut aja deh tuh dikasih obat dari dedauanan. Bukannya sakitnya sembuh, malah semakin parah. Mataku malah mengeluarkan darah. Ngeri banget. 

Keesokanya terpaksa dibawa ke rumah sakit terdekat untuk cek ke dokter mata. Aku dituntun masuk ke ruangan (setelah hampir 1 jam menunggu antrian). Aku hampir ngga sanggup menahan sakit. Saat dibaringkan dikursi periksa dengan alat-alat canggih (aku bisa ngintip sedikit), dokter meneteskan beberapa tetes obat bius di mataku. hasilnya adalah aku ngga merasakan sakit, dan aku bisa melihat dengan perlahan-perlahan aku bisa membuka kelopak mata yang sudah membengkak. Disitu ternyata berkurumun 4-5 orang dokter muda para calon spesialis mata yang tengah latihan kerja. Mereka dan termasuk dokternya bergumam terkejut. Katanya kerusakan mataku parah. Aku ketakutan. Takut tidak bisa melihat seterusnya. Lima hari tidak bisa melihat saja membuatku tersiksa.

Aku bagai tontonan. satu persatu waja-wajah mendekat mengamati mataku. Aku ngga peduli yang penting aku bisa lihat. Pikirku saat itu, cepat juga pengobatannya. Namun ternyata itu hanya obat bius sementara yang hanya bertahan 1 jam. Dan dalam perjalanan pulang, berangsur mataku kembali tertutup kelopak, dan sakit dibagian terasa terasa menusuk-nusuk. Sakit kepala pun datang. 

Yang paling aku takutkan adalah setiap meneteskan obat mata, akan terasa perih luar biasa saat cairan setetes itu dimasukkan. Apalagi saat membuka mata. Setiap 5 detik selama masa pengobatanku, aku mersakan mataku seperti ditusuk-tusuk. Bukan main perih dan nyut-nyutan rasanya.

Obat mata sekecil itu harganya ampun-ampun. Sekecil kelingking harganya Rp 20.000-an. Ada 5 strip obat tetes setiap bungkus. dan aku harus menebus 5 bungkus plus obat tablet lainnya. Dihitungb-hitung biaya berobat sampai sembuh sudah 1.000.000-an. Agak ngenes juga liat kalkulasi kuitansi, cuma sakit mata, koq bisa sampe segitu mahalnya. Orang lain ngga tau komentar nya gitu, padahal sampe ngga bisa liat 2 minggu gitu dengan mata bengkak plus berdarah.

Aku ingat, hampir setengah bulan lebih tidak masuk kerja.  Untungnya saja hal itu ngga mengganggu janin ku. Alhamdulillah setelah rutin bolak-balik cek up mata ke dokter spesialis, mataku berangsur pulih. Dan untuk sementara kemana-kemana pakai kacamata hitam, untuk antisipasi dari debu dan benda-benda asing lainnya.

Oia, ini sebagian dari hasil foto sendiri mataku. Setiap melihat gambar ini aku langsung ngilu dan merasa gatal-gatal. Aneh. Bener-bener lebam seperti habis di pukul dan di tonjok ya?. Ini sama sekali ngga bisa melek, kalaupun dipaksa melek akan terasa berat dan nyut-nyutan. Gambat terakhir itu adalah melek maksimal saat kelopak atas di tarik dari bagian alis.


 My bloody eyes. Ada darah di sudut mataku, kalau di foto agak kurang jelas. 
(I'm sorry for removing the bloody eyes picture, because it's so disturbing)


NB : Sekilas tentang Konjuntivitis akut : Konjungtivitis akut adalah infeksi konjungtiva dengan gejala khas berupa peradangan kataral pada membran mukosa konjungtiva, merupakan penyakit menular dengan penularan melalui kontak langsung dengan sekret konjungtiva. Hifema adalah darah yang terkumpul atau tertimbun dibilik mata depan akibat trauma tumpul yang melukai iris atau badan siliaris sehingga menyebabkan ruptur pembuluh darah. Pasien hifema akan mengeluh rasa sakit, blefarospasme, pandangan kabur, penglihatan menurun, fotofobia, keluar air mata terus menerus, dan terlihat darah pada bilik mata depan yang terluka.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar