Senin, 14 November 2011

Aku tak Sangggup Resign


Sedih rasanya harus meninggalkan dia setiap hari. Jantungku serasa di cabik cabik setiap melihat mata bundarnya menatap ku seperti berteriak "Bun, ikut!", aku pura-pura kuat menghadapi ini setiap hari. Aku pura-pura menahan air mata yang sebenarnya selalu aku simpan sampai aku benar-benar dalam perjalanan dan baru aku teteskan sedikit demi sedikit. Untuk saat ini, aku benar benar belum sanggup resign, karena aku masih butuh. Kami masih butuh. Keluarga kecil ku masih butuh. Tapi aku pun tidak sanggup, tidak melihat anakku berkembang setiap hari. Aku harus tega saat ini meninggalkannya. Kerongkonganku tercekat mengingat dia tanpa diriku. Walaupun kadang, jika sehari aku bersamanya, saat dia rewel aku jengkel, tapi itu tidaklah membuatku marah. Aku mungkin hanya lelah. Mungkin orang lain menganggap kami bisa, namun mereka tidak tahu. Hidup itu semakin sulit, walau sehari-hari aku harus belajar mempermudah hidupku, dan suami ku selalu membesarkan hatiku, aku harus kuat. Mungkin saat ini kami harus berjuang keras dulu. Ini bukan lebay, tapi kenyataan. Sedikit pahit, sedikit getir. Tapi aku bersyukur, masih berada di tengah orang-orang yang selalu menyayangiku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar