Selasa, 02 Februari 2010

Cerpen : Jika Kau Cinta Dia (1)

Apakah kamu ngga bosan dengar kata cinta. Di mana-mana orang bicara cinta. Aku akan bahas cinta secara sederhana. Bagaimana cinta seharusnya kamu hadapi. Bagaimana seharusnya cinta tak kau bangga-banggakan setinggi langit. Bagaimana seharusnya kau mengendalikan cinta, bukan cinta yang mengendalikan kamu. Apa yang seharusnya kamu lakukan saat tak ada cinta lagi menghiasi hidupmu.
Sulit untuk mengatakan arti cinta. Cinta bukanlah sesuatu untuk diartikan, tapi untuk dirasakan, diwujudkan, dipahami, dan dinikmati. Sesederhana itu aku mencintai Putri. Sebagai seorang lelaki mungkin terlalu naïf membicarakan cinta. Tapi apapun alasannya, inilah yang aku rasakan.
Putri adalah orang pertama yang aku jatuhkan cinta, begitu juga Putri, aku adalah orang pertama yang dijatuhkan cintanya. Putri adalah orang yang aku cintai secara sederhana, tidak mensyaratkan apa-apa, tidak menuntut apa-apa. Dia adalah dia. Karena itulah aku sayangi dia.
Aku tak pernah berjanji akan mencintai dia selamanya, menyayangi dia selamanya, dan atau memiliki dia selamanya. Karena apa yang aku dan dia sekarang rasakan adalah untuk saat ini, esok, dan seterusnya. Tak perlu janji untuk membuatnya terikat padaku. Karena diapun tak mau aku berjanji apa-apa. “Aku hanya ingin lihat kamu terus bahagia, agar aku selalu bahagia, Putra” itulah yang selalu dia katakan. “Janji-janji itu nanti hanya akan menerkammu jika kau tak mampu menepatinya, aku tak mau kamu diterkam janji,”
“Iya, Putri. Semampuku aku akan menjaga hati ini,” jawabku. Putri tersenyum. Aku akan menyimpan senyumnya dalam ingatanku.
Semua orang mengejekku, jika aku bicara tentang cintaku pada Putri. Aku hanya tersenyum. Mereka bilang, “Tau apa kamu tentang cinta?”, tapi aku memang tak pernah berusaha mencari arti kata cinta. Aku hanya merasakan apa yang aku rasakan, bukan untukku katakan pada mereka.
Aku tak mau terlalu memusingkan kata-kata mereka. “Apakah Putri adalah satu-satunya wanita yang kamu cintai?”
“Ya!”
Seperti itulah yang aku rasakan. Haruskah aku menjawab, “Ya! Aku sangat mencintai Putri, dia adalah wanita yang paling aku cintai, aku ngga mau kehilangan dia, aku ingin bersamanya selamanya,” haruskah seperti itu? Haruskah? Haruskah agar mereka percaya betapa aku memang mencintainya?.
Aku tak pernah selalu mengatakan aku sayang atau aku cinta Putri. Begitupun dengan dia, tak pernah selalu mengatakan dia sayang atau cintai aku. Haruskah setiap detik ku katakan aku cinta dia?
Aku tak pernah bertanya apakah Putri mencintaiku. Dia pun tak pernah bertanya apakah aku mencintainya. Cukup saat pertama saja. Haruskah setiap saat aku bertanya apakah dia cinta aku?
Aku tak mau terlalu klise dan sama dengan orang-orang, dalam mencintai Putri. Biarlah aku menjadi aku yang hanya aku sendiri yang tahu bagaimana cara mencintai Putri.
Dan.
Apakah salah saat aku terdiam, saat Putri tak ada lagi di sisiku?, Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus berontak dan marah pada kenyataan. Apakah aku harus menangis? Apakah aku harus berkelahi dengan orang yang telah merebut Putri dariku? Apakah karena aku hanya secara sederhana mencintai Putri sehingga aku tak bisa berbuat apa-apa saat Putri menangis meminta pertolonganku.
***
“Sudah dua bulan, Putra begini, Dok!”
“Berapa umur Putra sekarang, Bu?”Tanya seorang Dokter.
“Dua puluh dua, Dok! Jawab Ibu Putra.
“Apakah sebelumnya Ibu pernah membawa Putra ke Psikiater?”
“Sudah pernah. Tapi tak pernah ada hasilnya. Saya ngga tahu lagi harus bagaimana, Dok!”
“Mungkin ibu bisa ceritakan masalah apa yang membuat Putra seperti ini?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar