Selasa, 08 Juni 2010

Cerpen : Where’s True Friend (2)

Aku Suci.

Hari ini aku bangun kesiangan. Seingatku, baru kali ini aku kesiangan. Bagaimana mungkin aku bisa kesiangan, padahal aku ngga terlambat tidur.

Akhir-akhir semangat kuliahku sedang berada di bawah standar kemalasanku. Entah apa yang membuatku begitu berat melangkah masuk ke ruangan kuliah jam pertama ini. Bertemu dengan kedua teman akrabku.

Apa mungkin karena aku sedang merasa sedikit ngga sreg sama Arun dan Zea. Ngga tahu kenapa. Mungkin bagi sebagian orang masalah ini masalah sepele. Tapi bagiku itu merupakan sesuatu yang penting juga. Selama ini aku kenal banyak orang untuk aku jadikan teman, tapi yang benar-benar jadi teman sejati itu susah. Dan mungkin saat inipun aku belum menemukannya, meskipun aku, Arun dan Zea cukup dekat.

Hari ini kuliah pagi, tapi aku datang agak kesiangan. Di kelas, aku lihat ada Roby, Dian, Anty, dan Tarra. Satu pertanyaan terbesarku saat itu adalah, tumben banget Tarra sendirian? Ke mana teman-temannya?. Ternyata dia bisa ‘hidup’ juga tanpa teman-temannya yang heboh itu. Baru beberapa menit kemudian Arun dan Zea datang bersamaan. Tumben mereka juga kesiangan.
Sebelum pak Jun selesai mengajar, beliau memberi tugas pada kami. Belum apa-apa, sebagian mahasiswa sudah merubung bangkuku, Arun dan Zea. Bukannya sombong, tapi kadang asik juga jadi bahan contekkan. Itu berarti mereka masih menganggap bahwa kami ‘ada’. Tapi aku lihat Tarra malah cuek banget sama tugas itu, dia menyendiri menjauhi teman-temannya.

Mata kuliah kedua di mulai satu jam lagi. Satu jam kosong ini, biasanya kami gunakan untuk sarapan pagi, bagi mereka yang belum sarapan pagi. Atau sekedar duduk-duduk ngobrol di bangku taman.

“Arun! Zea! Ayo!” ajakku pada mereka untuk menemui teman-temanku yang kebetulan berasal satu SMA denganku dulu.
“Ngga ah, Ci! Gue mau k e warnet,” tolak Arun.
“Males, Ci!” begitu juga dengan Zea, “Ngapain sih?!”

Aku sering bingung dengan sikap mereka yang kadang terkesan sombong. Di kelaspun begitu, mungkin karena mereka itu lebih pandai dibanding mahasiswa seangkatannya, kadang mereka ngga mau berteman dengan orang yang bagi mereka bodoh, malas atau apalah. Aku sebenarnya ngga suka dengan sikap mereka yang seperti itu. Mungkin itu juga yang membuat mereka jadi jauh dengan mahasiswa lainnya. Tadinya aku enjoy sama mereka tapi akhir-akhir ini aku mulai merasa ngga suka dengan mereka, sekalipun aku sangat dekat dengan mereka.
Aku pikir orang jenius kaya mereka bakal mau menerima orang apa adanya. Tapi buktinya pola pikir mereka jauh dari apa yang aku kira selama ini. Aku serba salah. Aku butuh teman, tapi bukan teman yang menganggap dirinya paling hebat, Aku jadi ingat Tarra, pasti enak punya sahabat yang selalu sejalan, sepikiran dan sehati kaya mereka berempat.

Aku terus mencoba memaksa mereka agar mau ikut denganku paling tidak hanya menyapa teman-temanku itu. Akhirnya mereka setuju tapi dari wajahnya terpancar wajah ketidaksenangan. Mudah-mudahan aku salah mengartikan guratan di wajah mereka.

Sekilas aku melihat Tarra berjalan sendirian. Dia terlihat berbeda dari biasanya. Wajahnya juga kelihatan ngga bersemangat, apa dia sedang ada masalah dengan teman-temannya. Sangat jarang malah hampir tidak pernah aku melihat salah satu anggota geng heboh – kata Arun – itu jalan sendirian seperti Tarra saat ini.

Setelah itu aku, Arun dan Zea ke perpustakaan. Arun dan Zea segera berkutat di tempat buku-buku ekonomi. Aku malah menyusuri rak buku dari fakultas psikologi. Tak ada yang menuntunku ke tempat ini, namun tiba-tiba saja kakiku melangkah dengan santai ke deretan rak-rak yang belum pernah aku lewati.
Aku teringat dengan masalah yang aku pikirkan tadi malam. Masalah yang sedang aku pikirkan. Ehm, sebenarnya sih bukan masalah. Tapi apa ya namanya, sesuatu yang mengganjal di hati. Mengenai Arun dan Zea. Mereka memang teman terbaikku, tapi mengapa mereka belum bisa aku sebut sebagai sahabat yang sebenarnya.
“Where’s True Friend?” judul buku yang kelihatannya menarik. Ehm…mungkin dari buku itu aku bisa menemukan jawaban dari apa yang aku pikirkan akhir-akhir ini. Baru saja aku hendak mengambilnya tiba-tiba ada 2 tangan lain yang ingin mengambilnya juga.
“Tarra? Alin?”

* * *

To be continued...

Jumat, 04 Juni 2010

Cerpen : Where’s True Friend (1)

created : Wednesday, August 05, 2009, 1:42:33 AM


Malam itu gue sedang berusaha tidur. Udah seminggu ini penyakit insomnia gue kambuh. Tiba-tiba telepon di atas meja belajar gue berdering.
“Halo, Tarra! Besok jadi khan?” tanya Karin di telepon terdengar penuh semangat.
“Ngga janji ya, Kar?” jawab gue.
“Iiih!” pekik Karin nyaring. Bakalan tambah susah tidur nih gue. “Sejak kapan lo pake ngomong ngga janji segala. Kaya orang penting aja tau ngga!” sahutnya kesal lalu segera menutup teleponnya.
Gue Tarra. Ini awal semester dua gue kuliah. Dan sekarang gue baru merasa ada sesuatu yang kayanya ngga nyaman dalam hidup gue. Awalnya sih happy tapi makin ke sini gue makin merasakan kejanggalan itu.
Hari ini ada kuliah pagi. Tadi malam beneran gue ngga bisa tidur nyenyak. Padahal gue udah mencoba minum obat tidur. Tapi hasilnya nihil. Gue baru bisa tidur jam lima pagi. Entah ada kekuatan apa yang membuat gue bisa bangun jam enam.
Wah, kayanya gue kepagian nih datengnya. Pak Jun, dosen statistik, udah masuk kelas tapi mahasiswa yang lain belum banyak yang dateng. Baru ada Roby, Dian sama Anty. Sepuluh menit kemudian baru mulai banyak yang dateng. Tapi Karin, Vanes dan Mia ngga datang. Rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran mereka. Mereka sahabat gue.
Ehm…tapi apa iya mereka sahabat gue? Kalau ternyata selama ini jalan pikiran kita ngga pernah sama. Mereka cenderung mengutamakan eksistensi mereka demi mendapat pujian, dan sanjungan dari temen-temen. Awalnya gue bangga dan menikmati jadi bagian dari mereka, yang bisa dibilang populer. Karena ngga semua orang bisa jadi bagian dari mereka.
Suatu malam, tiba-tiba gue merasa ada yang ngga beres, perasaan sangat ngga nyaman menghantui gue malam itu. Perasaan bahwa mereka sesungguhnya bukanlah sahabat yang seperti gue bilang selama ini.
Rasanya selama ini gue udah buta. Gue baru sadar kalo mereka ngga pernah sedikitpun mikirin orang lain. Karin, Vanes dan Mia kayanya bakal ngerusak hidup gue kalo gue terus sama mereka. Dimata orang, kita kelihatan sempurna, tapi… itu ngga bener!. Gue udah jarang kuliah, ngga pernah ikut praktikum wajib, jarang ngumpulin tugas, sering ngga ikut kuis, itu semua karena ajakan mereka.
Pergi ke tempat-tempat yang ngga penting dan ngabisin duit orang tua bareng mereka. Dan semua itu kita lakukan - gue rasa - hanya untuk cari kesenangan, cari pamor, dan jaga gengsi. Kaya hari ini, mereka ngga kuliah cuma mau belanja buat acara ulang tahunnya Angel, yang pastinya cewek populer juga. Penolakan gue untuk ‘cabut’ sama mereka hari ini menjadi ancaman buat gue. Gue bakal dicap ngga asik, ngga solid dan ngga kompak sama mereka. Whatever they say.
Gue pengen berubah rasanya. Berubah dalam arti, ngga menyia-nyiakan hidup gue cuma buat yang ngga penting dan ngga menyia-nyiakan kepercayaan orang tua gue. Semakin dewasa harusnya gue bisa cari temen yang bener-bener bisa bawa gue ke arah yang lebih baik. Ingin dapat perhatian, dapat pujian, atau jadi yang paling wah, ngga harus begini caranya.
“Tarra! Ngga keluar? mata kuliah pak Jun udah selesai, lho!” tegur Roby.
“Oh, nanti!” jawab gue.
“Mau ikut ke kantin?” ajaknya.
“Thanks! Gue mau ke perpus!”
“Perpus?!” tanya Roby heran.
“Iya? Kenapa?”
“Ah, ngga! Ganti tempat tongkrongan nih ceritanya?” katanya. Dari nada bicaranya seperti mengejek, tapi gue cuek. Kata-katanya ngga mempengaruhi gue koq.
Gue juga ngga tahu kenapa pengen ke perpus. Selama perjalanan menuju perpus banyak hal yang ngga pernah gue lihat selama ini, ternyata menarik juga. Ngeliat Suci, Zea dan Arun gue jadi ngiri. Pertemanan mereka kayanya adem ayem ngga ada masalah. Mereka temen sekelas gue yang bisa dibilang pinter. Mereka kelihatannya kompak banget deh. Mereka bisa membaur sama mahasiswa lainnya tanpa harus memandang status. Ngga kaya Karin, Vanes dan Mia, gengsi banget kalo harus gabung sama mereka yang bisa dibilang ‘rakyat kelas dua’ di kampus. Dan gue pun jadi ikut-ikutan begitu.
Saat Suci, Zea dan Arun lewat depan gue. Gue berusaha negor mereka, tapi kayanya mereka ngga mau gue sapa, sebab wajah mereka seakan bilang begitu. Cuma Suci yang sempet sekilas ngeliat gue.
Gue jalan ke perpus. Gue bingung sendiri, ngapain gue ke sini. Daripada BT gue iseng-iseng ngeliat buku-buku, kali aja ada yang menarik.
“Where’s True Friend?” judul buku yang baru aja gue liat.
Baru aja gue pengen ngambil buku itu, tapi tiba-tiba ada dua tangan lain yang megang buku itu.
“Suci? Alin?”

to be continued...

Selasa, 18 Mei 2010

Nikmatnya Bersyukur

Ada beberapa hal yang sama sekali ngga bisa terbeli di dunia ini, diantaranya nikmat hidayah keimanan dari Allah, nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.

Apakah ada yang mampu membeli semua nikmat tersebut? aku rasa tidak akan pernah ada. Apakah bisa membayar orang untuk menjadi iman? jika pun bisa, apa pasti keimanannya murni dari hati atau hanya sekedar jasmani saja yang beriman. Apakah ada yang mampu membeli nikmat sehat? kesehatan atau nyawa tidak bisa di beli. Apakah bisa membeli nyawa untuk orang yang sudah tak bernyawa?. Tidak. Apakah bisa membeli waktu yang sudah terlewat? jika waktu sudah terlewat, maka kita tidak punya kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Atau apakah ada yang mampu membeli kesempatan untuk hidup?. Kesempatan untuk melakukan apapun tidak akan bisa tanpa nikmat sempat dariNya.

Beberapa hari ini sepertinya ucapan syukurku selalu terucap. Alhamdulillah. Adakalanya kalau kita merasa sedikit saja suatu hal tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, kita mengeluh spontan tanpa melihat apakah hal itu pantas kita ucapkan selagi ada orang yang tidak menerima keadaan lebih baik dari kita.

Contohnya dengan nikmat diberi kelebihan (materi). Kadang kita merasa selalu merasa kurang dengan apa yang sudah kita dapatkan. Padahal, sadar atau tidak, ada orang yang bahkan lebih tidak beruntung daripada kita.

Aku pernah mengeluh soal pendapatan pekerjaan yang pas-pasan. Aku rasa kalian pun (ada) juga yang pernah mengeluh. Namun saat secara langsung melihat orang yang mempunyai perkerjaan dan pendapatan yang sudah pasti lebih pas-pasan dari pada aku, aku merasa bahwa seharusnya aku bersyukur, bukannya mengeluh. Mungkin inilah memang rezekiku yang paling diridhoi Allah.

Ada baiknya memang kita tidak menjadi orang yang selalu mengeluh dan selalu merasa kurang. Menjadi orang yang pandai bersyukur adalah suatu anugrah dan nikmat yang tak terharga. Nikmat di beri sehat, nikmat di beri kesempatan untuk hidup di dunia, nikmat memiliki rezeki yang lebih, dan beribu nikmat lain yang tak pernah kita sadari selama hidup di dunia. Alhamdulillahirobbil'alamin.

Rabu, 21 April 2010

Tulisan di Kala Stress Melanda

Dodol...gag pernah utak atik blog nya..stressss....lagi keranjingan ma kertas kado motif batik..NGIDAM??? wew..ngomong2 ngidam..I've told u about my wedding..hehehhehe...next time I'll tell you..sekarang gw lagi ngutak ngatik blog dulu supaya apik...

Selasa, 13 April 2010

ATRESIA BILIER

Nama Bilqis Anindya Passa akhir-akhir ini semakin sering terdengar setelah mengalami penyakit Atresia bilier (saluran empedu tidak terbentuk), Namun akhirnya pada tanggal 10 April lalu Bilqis meninggal sebelum dioperasi oleh tim cangkok hati RSUP dr Kariadi, Semarang. Bilqis mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 15.15.

Sebenarnya apa sih Atresia Bellier?

Atresia Bilier

DEFINISI

Atresia Bilier adalah suatu keadaan dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal.

Fungsi dari sistem empedu adalah membuang limbah metabolik dari hati dan mengangkut garam empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak di dalam usus halus.
Pada atresia bilier terjadi penyumbatan aliran empedu dari hati ke kandung empedu. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati, yang jika tidak diobati bisa berakibat fatal.

PENYEBAB

Atresia bilier terjadi karena adanya perkembangan abnormal dari saluran empedu di dalam maupun diluar hati. Tetapi penyebab terjadinya gangguan perkembangan saluran empedu ini tidak diketahui.
Atresia bilier ditemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran.

GEJALA

Gejala biasanya timbul dalam waktu 2 minggu setelah lahir, yaitu berupa:
- air kemih bayi berwarna gelap
- tinja berwarna pucat
- kulit berwarna kuning
- berat badan tidak bertambah atau penambahan berat badan berlangsung lambat
- hati membesar.

Pada saat usia bayi mencapai 2-3 bulan, akan timbul gejala berikut:
- gangguan pertumbuhan
- gatal-gatal
- rewel
- tekanan darah tinggi pada vena porta (pembuluh darah yang mengangkut darah dari lambung, usus dan limpa ke hati).

DIAGNOSA

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pada pemeriksaan perut, hati teraba membesar.

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
• Pemeriksaan darah (terdapat peningkatan kadar bilirubin)
• USG perut
• Rontgen perut (tampak hati membesar)
• Kolangiogram
• Biopsi hati
• Laparotomi (biasanya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan).

PENGOBATAN

Prosedur yang terbaik adalah mengganti saluran empedu yang mengalirkan empedu ke usus. Tetapi prosedur ini hanya mungkin dilakukan pada 5-10% penderita.

Untuk melompati atresia bilier dan langsung menghubungkan hati dengan usus halus, dilakukan pembedahan yang disebut prosedur Kasai.
Pembedahan akan berhasil jika dilakukan sebelum bayi berusia 8 minggu.
Biasanya pembedahan ini hanya merupakan pengobatan sementara dan pada akhirnya perlu dilakukan pencangkokan hati.

sumber : http://medicastore.com/penyakit/906/Atresia_Bilier.html

Jumat, 19 Februari 2010

Ga ada Kerjaan

Sebenarnya lagi banyak kerjaan. Tapi gue kasian lihat blog gue kosong melompong. Tragis di tinggal penulis. Menangis karena penulis lagi meringis. Mengais-ngais.
Halaaah apaan c, ga jelas.
udah ah.. mau balik gawe!

Jumat, 12 Februari 2010

Cerpen : Jika Kau Cinta Dia (2)

Kenapa harus terjadi padaku. Aku tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Dan akupun tak pernah merasakan rasa sakit seperti ini sebelumnya. Kenapa semua orang mau mengambil Putri dariku?

“Aku ngga sanggup lagi, Putra! Tolong aku!”

Putri menangis setiap malam. Orang tuanya hendak menikahkan Putri dengan seorang pria berusia 15 tahun lebih tua darinya. Maka dari itulah hubunganku dengan Putri tak pernah direstui orang tuanya, dengan alasan Putri harus menyelesaikan studi S1 nya dulu. Dan juga karena aku belum mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah.

Tapi ternyata dibalik itu sudah ada rencana lain sehingga Putri tak diizinkan menjalin hubungan denganku.


Aku datangi rumahnya, aku katakan pada ibunya bahwa Putri tak mau dinikahkan dengan cara seperti ini. Putri tertekan dengan sikap orang tuanya yang keras. Tapi orang tuanya tak menggubris kata-kataku. Rasanya tak mungkin aku bertindak terlalu jauh.

Apa karena aku menyayangi Putri terlalu sederhana, sehingga tak berani melakukan hal-hal konyol. Bukan tak berani. Tapi apa itu bukannya kelakuan yang tak lebih dari seorang anak kecil yang menangis saat sesuatu yang disayanginya hendak diambil orang.

Aku ingin memperjuangkan Putri. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika sudah pada tahap ini. Apa yang bisa aku lakukan untuk Putri.

“Jangan bertindak bodoh, Putri. Apa kamu mau melihat orang tua kamu sedih Putri?”

“Tapi apa mereka peduli padaku, Putra?” ujar Putri sesenggukan menangis.

“Putri aku mohon jangan menangis, aku mohon!”

“Aku hanya bisa menangis, agar mereka tahu bahwa aku sedang tersiksa,”

Aku tak tega mendengar suara Putri. Yang lebih tak tega lagi adalah tahu bahwa seminggu lagi Putri akan sidang sarjana. Ya Tuhan. Semoga Putri bisa melewati ujian ini. Betapa tega orang tua Putri. Mengapa hanya karena harta, Putri jadi tumbal. Aku ingin berontak. Aku ingin menyelamatkan Putri.

Besok pagi Putri akan dinikahkan. Tuhan tolong aku. Apa yang harus aku lakukan. Aku harus bagaimana…

“Putra…aku ingin pergi saja dari dunia ini. Biar mereka bahagia dengan apa yang mereka inginkan…”

***

Bukan karena tak ada perjuangan. Tapi apa yang sudah Tuhan gariskan lah semua terjadi. Putri sudah tak ada lagi. Dia sudah menjadi milik orang lain. Putri aku tahu kamu masih menyayangiku seperti aku menyayangimu. Putri hadapilah ini semua dengan sabar. Tuhan pasti menolongmu. Putri tetaplah kuat. Semoga kau bisa mencintai suamimu suatu saat nanti. Biarlah aku tetap menjaga hati ini, semampuku. Aku tahu kamu tak pernah ingin aku berjanji apa-apa.

Aku tak pernah memintamu berjanji untuk tetap mencintaiku. Karena nyatanya itu sudah tak mungkin. Aku tak ingin melupakanmu. Aku tak memintamu untuk tetap mengingatku. Terserah padamu.

Putri apakah aku masih boleh menangisi kepergianmu. Putri apakah karena cintaku yang terlalu sederhana sehingga tak bisa menyelamatkanmu Putri?, Putri apakah kamu marah padaku karena tak bisa menyelamatkanmu.

Aku hanya bisa melepasmu dengan perasaan yang amat sangat kacau. Aku masih belum berhasil menata hatiku untuk ikhlas melepasmu. Apa yang harus aku lakukan?, aku hilang arah Putri.

Aku hampa tanpa ada senyummu. Aku harus mencari ke mana senyum seperti itu lagi?.

Tuhan bantu aku menata hatiku agar aku ikhlas menerima kepergian Putri.

“Putra jangan pernah berubah. Aku masih ingin berada di sampingmu. Aku ngga bisa jauh dari kamu, Putra!”

“Tapi itu ngga mungkin lagi Putri. Putri aku mohon jangan buat dirimu dalam masalah. Kamu sudah jadi milik orang lain sekarang,”

“Aku bisa gila!” lagi-lagi Putri menangis. “Putra. Aku ngga bisa melihat mata kamu lagi, jadi bagaimana aku tahu apakah kamu masih sayang aku?”

Aku menahan tangis. Ini pertama kalinya Putri menanyakannya setelah beberapa tahun. “Apa yang bisa diharapkan dari aku Putri seandainya aku masih sayang kamu?”

“Hati ini akan tenang!”

***

“Putra orang yang introvert!”

“Apakah itu salah satu penyebab dia seperti ini?”

“Ya. Salah satunya itu, dia tak mau berbagi cerita dengan siapapun, hanya pada Putri ia berbagi cerita, ia kehilangan yang ia miliki saat tak ada lagi Putri dalam hidupnya, menganggap Putri telah tiada.”

Setelah peristiwa itu. Jiwa Putra hilang entah kemana. Apakah ini lucu? Apakah ini dramatis atau terlalu didramatisir?

Ketika cinta pergi menangislah manusia yang tadinya menganggap dirinya tegar. Cinta bisa membuat seseorang yang tadinya tegar menjadi rapuh, yang tadinya rapuh menjadi tegar.

Jiwa Putra terlalu kuat akan cinta, tapi sangat lemah saat kehilangan cinta. Jika kau cinta siapapun dalam hidupmu. Hanya butuh satu pedamping yang mengirinya. Keikhlasan dan kekuatan jiwa, dalam menghadapi cinta.

Selasa, 02 Februari 2010

Cerpen : Jika Kau Cinta Dia (1)

Apakah kamu ngga bosan dengar kata cinta. Di mana-mana orang bicara cinta. Aku akan bahas cinta secara sederhana. Bagaimana cinta seharusnya kamu hadapi. Bagaimana seharusnya cinta tak kau bangga-banggakan setinggi langit. Bagaimana seharusnya kau mengendalikan cinta, bukan cinta yang mengendalikan kamu. Apa yang seharusnya kamu lakukan saat tak ada cinta lagi menghiasi hidupmu.
Sulit untuk mengatakan arti cinta. Cinta bukanlah sesuatu untuk diartikan, tapi untuk dirasakan, diwujudkan, dipahami, dan dinikmati. Sesederhana itu aku mencintai Putri. Sebagai seorang lelaki mungkin terlalu naïf membicarakan cinta. Tapi apapun alasannya, inilah yang aku rasakan.
Putri adalah orang pertama yang aku jatuhkan cinta, begitu juga Putri, aku adalah orang pertama yang dijatuhkan cintanya. Putri adalah orang yang aku cintai secara sederhana, tidak mensyaratkan apa-apa, tidak menuntut apa-apa. Dia adalah dia. Karena itulah aku sayangi dia.
Aku tak pernah berjanji akan mencintai dia selamanya, menyayangi dia selamanya, dan atau memiliki dia selamanya. Karena apa yang aku dan dia sekarang rasakan adalah untuk saat ini, esok, dan seterusnya. Tak perlu janji untuk membuatnya terikat padaku. Karena diapun tak mau aku berjanji apa-apa. “Aku hanya ingin lihat kamu terus bahagia, agar aku selalu bahagia, Putra” itulah yang selalu dia katakan. “Janji-janji itu nanti hanya akan menerkammu jika kau tak mampu menepatinya, aku tak mau kamu diterkam janji,”
“Iya, Putri. Semampuku aku akan menjaga hati ini,” jawabku. Putri tersenyum. Aku akan menyimpan senyumnya dalam ingatanku.
Semua orang mengejekku, jika aku bicara tentang cintaku pada Putri. Aku hanya tersenyum. Mereka bilang, “Tau apa kamu tentang cinta?”, tapi aku memang tak pernah berusaha mencari arti kata cinta. Aku hanya merasakan apa yang aku rasakan, bukan untukku katakan pada mereka.
Aku tak mau terlalu memusingkan kata-kata mereka. “Apakah Putri adalah satu-satunya wanita yang kamu cintai?”
“Ya!”
Seperti itulah yang aku rasakan. Haruskah aku menjawab, “Ya! Aku sangat mencintai Putri, dia adalah wanita yang paling aku cintai, aku ngga mau kehilangan dia, aku ingin bersamanya selamanya,” haruskah seperti itu? Haruskah? Haruskah agar mereka percaya betapa aku memang mencintainya?.
Aku tak pernah selalu mengatakan aku sayang atau aku cinta Putri. Begitupun dengan dia, tak pernah selalu mengatakan dia sayang atau cintai aku. Haruskah setiap detik ku katakan aku cinta dia?
Aku tak pernah bertanya apakah Putri mencintaiku. Dia pun tak pernah bertanya apakah aku mencintainya. Cukup saat pertama saja. Haruskah setiap saat aku bertanya apakah dia cinta aku?
Aku tak mau terlalu klise dan sama dengan orang-orang, dalam mencintai Putri. Biarlah aku menjadi aku yang hanya aku sendiri yang tahu bagaimana cara mencintai Putri.
Dan.
Apakah salah saat aku terdiam, saat Putri tak ada lagi di sisiku?, Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus berontak dan marah pada kenyataan. Apakah aku harus menangis? Apakah aku harus berkelahi dengan orang yang telah merebut Putri dariku? Apakah karena aku hanya secara sederhana mencintai Putri sehingga aku tak bisa berbuat apa-apa saat Putri menangis meminta pertolonganku.
***
“Sudah dua bulan, Putra begini, Dok!”
“Berapa umur Putra sekarang, Bu?”Tanya seorang Dokter.
“Dua puluh dua, Dok! Jawab Ibu Putra.
“Apakah sebelumnya Ibu pernah membawa Putra ke Psikiater?”
“Sudah pernah. Tapi tak pernah ada hasilnya. Saya ngga tahu lagi harus bagaimana, Dok!”
“Mungkin ibu bisa ceritakan masalah apa yang membuat Putra seperti ini?”

Rabu, 27 Januari 2010

Cerpen : Artikel Patah Hati

Pukul 12.00

Bukan waktu yang tepat untuk menyandarkan kepala di atas meja kerja. Setumpuk pekerjaan harus segera di selesaikan sore ini. Perut keroncongan, tapi tak ada nafsu untuk mengisi. Kepala sakit bukan main. Tapi malang tak dapat di tolak, untung tak dapat di raih. Apa pun itu. Apa saja itu. Sesuatu tentang seseorang yang sekarang sedang duduk manis di sebelah sekat dinding meja kerjanya. Aini membenci nya.

Alfa. Alfa.

Sakit setiap mendengar ada orang yang memanggil namanya. Teriris hatinya bila seseorang masih dengan santai tanpa beban tersenyum pada nya. Perut Aini keroncongan karena lapar. Kepala nya pun berputar-putar tak keruan, karena tak tidur nyenyak dua minggu ini. Ditambah sakit kepala manakala mendengar Alfa cekikikan seperti kuntilanak yang sedang menghantui Aini kemanapun Aini berada. Ah, halusinasi yang berlebihan. Sejak 2 minggu lalu, Alfa bagai horor yang menyakitkan bukan menakutkan.

Alfa sedang ngobrol asyik dengan pacar barunya. Tak ada yang tahu betapa sakitnya Aini saat ini. Aini masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Alfa bukan miliknya lagi. Aini tidak sanggup bila harus dan masih bekerja dalam naungan satu departemen bersama Alfa, sang penggoda hati wanita. Oh, siapa yang sangka Aini akan terperangkap. Aini tak pernah percaya bahwa Alfa pernah menjadi bagian hidupnya.

Alfa. Alfa.

Sakit. Kenapa ia harus menangis hanya karena seorang pengecut macam Alfa. Ah. Semua telah terjadi. Kini ia hanya bisa diam. Tak ada lagi yang perlu di sesali. Semua sudah terjadi. Biarkan Alfa menikmati kebahagiaan bersama wanita korban selanjutnya. Dan Aini “menikmati” rasa sakit yang luar biasa ini.

Alfa. Alfa.

Aini sudah bosan mengenang. Bagaimana ia begitu cinta kepada Alfa. Bagaimana Alfa begitu pandai membuat Aini tak pernah bisa berpaling. Kini hanya ada satu kata yang memang pas buatnya. Patah Hati.

Pukul 16.00

“Aini? Belum pulang?” Alfa berdiri di depan meja Aini. Oh, betapa penuh karisma-nya laki-laki ini. Tak sadarkah ia akan apa yang telah ia perbuat 2 minggu lalu?menghancurkan hati Aini begitu mudah seperti meremukkan daun kering. Tak sadarkah ia? Ya Tuhan, kenapa kau menciptakan manusia ini begitu tidak peka terhadap gadis seperti Aini. Teriaknya dari dalam hati. Mata elang Alfa menembus dan mengoyak-ngoyak pertahanan Aini untuk tidak kembali mengenang Alfa yang dulu ia cintai. Tapi semua nya bobrok, manakala mata Alfa menatap matanya tanpa sedikitpun merasa bersalah.

Aini teringat 2 minggu lalu,

“Kita berpisah baik-baik ya Ai”, ucap Alfa.

“Kamu masih manggil aku “Ai”?” tanya Aini. Masih tidak percaya kalau Alfa yang kini jadi mantannya masih memanggil dirinya “Ai”. “Ai” adalah panggilan sayang Alfa kepada Aini.

“Ya Ai, nama kamu khan Aini!” jawab Alfa enteng. Oh, Aini terlalu percaya diri kalau Alfa masih ingin memanggilnya “Ai”. “kita masih berteman khan, Ai?”, tanya Alfa lagi.

Ah, semudah itu kah kamu mengambil keputusan bahwa kita masih berteman setelah apa yang kau lakukan padaku? Pengkhianat! Kau hancurkan janjimu sendiri untuk setia padaku. Dasar laki-laki buaya. Teriak Aini dalam hati.

Aini diam terpaku. Alfa pergi dengan tersenyum,

“Gue pulang duluan ya!” pamitnya. Aini tak dapat menahan amarahnya. Aini beranjak dari bangku mengambil sebuah pembolong kertas yang tergeletak di atas mejanya, lalu di lemparnya benda itu ke kepala Alfa. Kepala Alfa berdarah-darah…Namun, aah, ternyata itu hanya khayalan Aini. Andai ia bisa melakukan hal yang lebih kejam daripada itu, supaya sakit hati nya berkurang.

Aini patah hati.

Aini tak mau patah hati.

Aini sakit hati.

Aini tak mau sakit hati.

Segala cara sudah dia lakukan menuruti “Artikel Patah Hati” yang ia dapatkan dari hasil browsing di internet seminggu lalu. Mulai dari melupakan segala sesuatu tentang mantan kekasihnya, menyingkirkan barang-barang pemberian Alfa untuk menghapus kenangan tentangnya, memperbanyak aktivitas di luar rumah, baca buku, ke salon, aahh, semua sudah dilakukan, tapi hasilnya nihil.

Tak ada yang mampu menyembuhkannya saat ini. Aini sebenarnya hanya butuh ketenangan. Butuh pengobatan. Butuh kesejukan dari seseorang atau siapapun yang bisa mengerti dirinya. Ia takkan sanggup bila harus melihat bayangan Alfa sekalipun.

Di ambilnya surat resign yang ia simpan seminggu lalu dari dalam lacinya. Waktu itu, sempat ia renungkan bahwa ia harus menang melawan rasa sakit ini. Ia harus menang melawan ini. Karena ia pikir ia mampu bekerja satu atap dengan Alfa meski jiwa raganya hancur. Tapi kini, ia harus meminta maaf pada dirinya sendiri, maaf pada kelemahan hatinya. Aini telah kalah. Ia tak mau ini merusak jiwanya. Ia harus pergi dari semuanya. Memulai semua dari awal. Dengan sesuatu yang baru. Selamat tinggal jiwa Aini yang lama dengan si Alfa, laki-laki karismatik penuh pesona namun buaya darat nomor satu sedunia.

Kamis, 21 Januari 2010

Pujangga Wanita

Semua peristiwa bahagia
Yang selalu membuai angan
Semua peristiwa luka
Yang terus merongrong jiwa
Sampai kepahitan itu merusak otakku untuk berkata-kata
Pada sesuatu penciptaan imajinasi
Terkungkung dalam kesakitan
Yang menghancurkan pertahanan jiwa dan raga
Kesakitan teramat sangat
Aku telah rindu pada kata-kata indahku
Yang selama ini selalu menemaniku
Membuka tawa, tangis dan sesak
Saat ku rindu
Saat ku bahagia
aku lupa kata-kataku
imajinasi pujangga
Saat aku sakit
Saat aku terkulai bersimbah darah di hati
Aku benar-benar hilang akal
hilang kata
Aku kini rindu pada ribuan kata-kataku
Aku ingin kembali
Menjadi pujangga wanita yang dicintai diri sendiri
Yang menyayangi diri sendiri
Karena takut mendzolimi lagi diriku